Anjuran Puasa Muharram
Anjuran Puasa Muharram

Anjuran Puasa Muharram

6 Dilihat

MediaIslam.InfoSolution.Biz – Saran Puasa Muharram – Bulan mulia, bulan Muharram sesaat lagi akan mendekati kita. Bulan itu disebutkan di beberapa kelompok dengan bulan Suro dan sama dengan beberapa hal horor dan apes hingga acara-hajatan jangan dikerjakan di bulan itu.

Walau sebenarnya islam tidak memandang begitu. Pada bulan itu ialah peluang untuk beramal sholih, khususnya puasa, paling utama kembali bila merasakan hari Asyura (10 Muharram).

Saran Puasa Muharram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan kita lakukan puasa di bulan Muharram seperti sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Imam Nawawi -rahimahullah- menerangkan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Lalu kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijumpai banyak berpuasa pada bulan Sya’ban bukan justru bulan Muharram? Ada dua jawaban yang disampaikan oleh Imam Nawawi.

  1. Mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ketahui kelebihan banyak berpuasa pada bulan Muharram diakhir hayat hidup beliau.
  2. Bisa jadi juga beliau mempunyai udzur saat ada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) hingga tidak sempat menjalankan banyak puasa di bulan Muharram. (Saksikan Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Puasa yang paling penting antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) ialah puasa pada bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Sama sesuai keterangan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua jenis:

  1. Puasa sunnah muthlaq. Sebagus-baik puasa sunnah muthlaq ialah puasa pada bulan Muharram.
  2. Puasa sunnah sebelum dan setelah yang menemani puasa harus pada bulan Ramadhan. Contoh puasa ini ialah puasa enam hari pada bulan Syawal. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 66)

Maka keterangan di atas bisa dimengerti jika puasa sunnah mutlaq yang paling afdhol ialah puasa Muharram. Dan puasa muqoyyad (yang ada hubungan sama waktu tertentu atau terkait dengan puasa Ramadhan), karena itu yang lebih afhol ialah puasa enam hari pada bulan Syawal.

Puasa Syawal dari segi ini lebih afhdol dari puasa Muharram. Puasa Syawal itu terkait dengan puasa Ramadhan. Oleh karena itu puasa itu seperti shalat sunnah rawatib yang menemani shalat harus.

Puasa Arafah dapat semakin baik dari puasa Muharram dari segi puasa Arafah sebagai sunnah yang teratur. (Keterangan Syaikh Kholid bin Su’ud Al Bulaihad di sini)

Antara teman dekat yang suka lakukan puasa pada bulan-bulan haram (terhitung bulan haram ialah Muharram) yakni ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan juga Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri suka lakukan puasa pada tiap bulan haram (Saksikan Latho-if Al Ma’arif, hal. 71).

Bulan haram ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Banyak Berpuasa, Tidak Perlu Satu bulan Penuh

Keterangan di atas memperlihatkan jika golongan muslimin disarankan perbanyak puasa di bulan Muharram. Bila tidak sanggup, berpuasalah sama sesuai kekuatannya. Tetapi yang lebih pas ialah tidak berpuasa Muharram satu bulan penuh. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berbicara,

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau banyak puasa dalam sebulan selain pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim no. 1156). (Lihat penjelasan Syaikh Kholid bin Su’ud Al Bulaihad di sini)

Yang Lebih Afdhol, Puasa Asyura

Dari beberapa hari pada bulan Muharram, yang lebih afhol ialah puasa hari ‘Asyura, yakni pada 10 Muharram. Abu Qotadah Al Anshoriy berbicara,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Lalu, beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Selisihi Yahudi dengan Menambahkan Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Tetapi pada kerangka menyelisihi Yahudi, kita diperintah berpuasa di hari awalnya, yakni berpuasa di hari ke-9 (tasu’a). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berbicara jika saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan puasa hari ‘Asyura dan memerintah golongan muslimin untuk melakukan, pada waktu itu ada yang berbicara,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selain menjelaskan jika disarankan (disunnahkan) berpuasa di hari ke-9 dan ke-10 sekaligus; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ke-10 dan punya niat (berkemauan) berpuasa di hari ke-9. (Saksikan Syarh Muslim, 8: 12-13)

Ibnu Rajab menjelaskan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99)

Apa Makna Menambahkan Puasa pada Hari Ke-9?

Beberapa ulama menjelaskan jika karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bepuasa di hari ke-10 sekalian ke-9 supaya tidak tasyabbuh (seperti) orang Yahudi yang cuma berpuasa di hari ke-10 saja. Dalam hadits Ibnu Abbas ada kode tentang ini.

Ada pula yang menjelaskan jika ini untuk kehati-hatian, siapa yang tahu keliru dalam penetapan hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Opini yang mengatakan jika Nabi menambahkan hari ke-9 supaya tidak seperti puasa Yahudi ialah opini yang semakin kuat. Wallahu a’lam. (Saksikan Syarh Muslim, 8: 12-13)

Seperti keterangan dari Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili, kita lebih bagus berpuasa 2 hari sekalian yakni di tanggal 9 dan 10 Muharram karena saat lakukan puasa ‘Asyura ada dua jenjang yakni:

  1. Jenjang yang lebih prima ialah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekalian.
  2. Jenjang di bawahnya ialah berpuasa pada 10 Muharram saja. (Saksikan Tajridul Ittiba’, hal. 128)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, “Yang lebih afdhol adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dari bulan Muharram karena mengingat hadits (Ibnu ‘Abbas), “Apabila aku masih diberi kehidupan tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Jika ada yang berpuasa pada hari kesepuluh dan kesebelas atau berpuasa tiga hari sekaligus (9, 10 dan 11) maka itu semua baik. Semua ini dengan maksud untuk menyelisihi Yahudi.” (Lihat Fatwa Syaikh Ibnu Baz di sini).

Mudah-mudahan Allah mempermudah kita untuk selalu beramal sholih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.